Saat mbak Elsa mempublikasikan postingan cerbung Dasrun Part IV, saya berpikir ide ini sangat kreatif. Cerbung Dasrun Part I yang dibuat oleh mbak Iyha terus berlanjut menjadi Dasrun Part II oleh Bibi Titi Teliti (mbak Erry) dan Dasrun Part III oleh mbak Herien. Kemudian, karena komentar iseng saya di blog mbak Elsa (hehehe,,) akhirnya tugas ini pun dilempar ke saya. Meski harus dipending beberapa hari karena blog saya sedang dialihkan domainnya. Semoga mbak Elsa, mbak Iyha, mbak Erry, mbak Herien dan pembaca setia cerbung Dasrun tidak menyesal (maaf, hasilnya jadi begini..harap maklum..saya nggak pintar membuat cerita) membiarkan cerbungnya dilanjutkan oleh saya.
******
Setelah selesai mandi, Rama bergegas menuju meja. Melihat itu Dasrun semakin tertunduk. Bagaimana cara mengatakannya kepada Rama?
"Ayah, jadi kan nanti kita ke pasar malam?"
Semakin sedih hati Dasrun mendengarnya. Anak semata wayangnya begitu menantikan hari ini. Bagaimana mungkin dia harus mengecewakan anaknya. Rasanya tenggorokan Dasrun tercekat, tak satu katapun mampu terucap. Disesapnya segelas teh hangat, diucapkannya bismillah di dalam hati.
"Maaf anakku, sepertinya Ayah harus menunda janji kita hari ini. Malam ini Ayah sedang ada kerjaan. Besok malam saja ya nak..Insyaallah besok kita bisa pergi kesana". Ucap Dasrun sambil tersenyum.
"Tapi yah, Rama sudah bilang ke Dodo dan Daus. Mereka bilang mau meminjam helikopter yang akan Rama beli disana"
Ujar Rama lemah, matanya mulai berkaca-kaca.
Mendengar ucapan suaminya, Siti menyibakkan tirai kamar dan menuju meja. Ditatapnya Dasrun heran. Dasrun balik menatap Siti, tersenyum tenang. Siti yakin, Dasrun tak ingin berbohong. Siti mengangguk mengerti. Meskipun benaknya berpikir dari mana Dasrun bisa mendapatkan uang untuk mengajar anaknya pergi ke pasar malam jika tak selembar uang pun yang mereka miliki saat ini?
"Nak, itulah kenapa Ibu mengajarkanmu untuk selalu bersabar. Ayah sedang ada pekerjaan. Juga tidak mungkin kita hanya pergi berdua kesana. Jadi bersabarlah nak."
"Tapi Ayah tidak bohong kan? Dodo tadi mengejek Rama, katanya Rama cuma bohong."
"Tidak nak,,Ayahmu tidak berbohong. Insyaallah besok kita bisa pergi ke pasar malam."
Siti berusaha menenangkan hati anaknya. Rama pun mengangguk.
"Ayah, jadi kan nanti kita ke pasar malam?"
Semakin sedih hati Dasrun mendengarnya. Anak semata wayangnya begitu menantikan hari ini. Bagaimana mungkin dia harus mengecewakan anaknya. Rasanya tenggorokan Dasrun tercekat, tak satu katapun mampu terucap. Disesapnya segelas teh hangat, diucapkannya bismillah di dalam hati.
"Maaf anakku, sepertinya Ayah harus menunda janji kita hari ini. Malam ini Ayah sedang ada kerjaan. Besok malam saja ya nak..Insyaallah besok kita bisa pergi kesana". Ucap Dasrun sambil tersenyum.
"Tapi yah, Rama sudah bilang ke Dodo dan Daus. Mereka bilang mau meminjam helikopter yang akan Rama beli disana"
Ujar Rama lemah, matanya mulai berkaca-kaca.
Mendengar ucapan suaminya, Siti menyibakkan tirai kamar dan menuju meja. Ditatapnya Dasrun heran. Dasrun balik menatap Siti, tersenyum tenang. Siti yakin, Dasrun tak ingin berbohong. Siti mengangguk mengerti. Meskipun benaknya berpikir dari mana Dasrun bisa mendapatkan uang untuk mengajar anaknya pergi ke pasar malam jika tak selembar uang pun yang mereka miliki saat ini?
"Nak, itulah kenapa Ibu mengajarkanmu untuk selalu bersabar. Ayah sedang ada pekerjaan. Juga tidak mungkin kita hanya pergi berdua kesana. Jadi bersabarlah nak."
"Tapi Ayah tidak bohong kan? Dodo tadi mengejek Rama, katanya Rama cuma bohong."
"Tidak nak,,Ayahmu tidak berbohong. Insyaallah besok kita bisa pergi ke pasar malam."
Siti berusaha menenangkan hati anaknya. Rama pun mengangguk.
***
"Mas, sudahlah..jangan dipaksakan. Katakan saja yang jujur kepada Rama. Dia anak yang baik, pasti dia bisa mengerti"
Kata Siti setelah mencium tangan suaminya. Mereka baru saja selesai sholat Maghrib berjamaah dan Rama sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya di meja makan.
"Mas sudah janji dek, mas tidak tega mengecewakan rama"
"Tapi bagaimana caranya mas? kita tidak mungkin pergi kesana tanpa membawa uang sepeser pun. "
"Mas mau cari pekerjaan malam ini, siapa tahu bisa dapat rezeki. Mas akan berusaha dek."
Dasrun mengancingkan kemeja lengan pendeknya. Ketika dia akan keluar kamar, Siti menahan tangannya.
"Bawalah ini mas, kalau nanti rasanya agak sulit, dijual saja" Siti memberikan bungkusan kecil berisi cincin.
"Tapi kan ini dari Emak dek, janganlah barang sepenting ini dijual. Tidak baik, nanti Emak mengira kita tidak menghargai pemberiannya." Dasrun menolak, namu Siti tetap memaksanya memegang bungkusan kain itu.
"Emak sudah tua mas, beliau mengerti bahwa semua ini diluar kehendak kita. Janganlah berpikiran buruk."
Dengan berat hati Dasrun mengalah. Dimasukkannya juga bungkusan itu ke dalam kantung celana. Dasrun keluar kamar, diikuti Siti dibelakangnya. Dia berpamitan dengan Rama dan Siti menuju satu tempat yang dari tadi menjadi tujuannya malam ini. Semoga saja semua ini bisa membantu.
Kata Siti setelah mencium tangan suaminya. Mereka baru saja selesai sholat Maghrib berjamaah dan Rama sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya di meja makan.
"Mas sudah janji dek, mas tidak tega mengecewakan rama"
"Tapi bagaimana caranya mas? kita tidak mungkin pergi kesana tanpa membawa uang sepeser pun. "
"Mas mau cari pekerjaan malam ini, siapa tahu bisa dapat rezeki. Mas akan berusaha dek."
Dasrun mengancingkan kemeja lengan pendeknya. Ketika dia akan keluar kamar, Siti menahan tangannya.
"Bawalah ini mas, kalau nanti rasanya agak sulit, dijual saja" Siti memberikan bungkusan kecil berisi cincin.
"Tapi kan ini dari Emak dek, janganlah barang sepenting ini dijual. Tidak baik, nanti Emak mengira kita tidak menghargai pemberiannya." Dasrun menolak, namu Siti tetap memaksanya memegang bungkusan kain itu.
"Emak sudah tua mas, beliau mengerti bahwa semua ini diluar kehendak kita. Janganlah berpikiran buruk."
Dengan berat hati Dasrun mengalah. Dimasukkannya juga bungkusan itu ke dalam kantung celana. Dasrun keluar kamar, diikuti Siti dibelakangnya. Dia berpamitan dengan Rama dan Siti menuju satu tempat yang dari tadi menjadi tujuannya malam ini. Semoga saja semua ini bisa membantu.
***
Dasrun tiba di pasar malam. Pasar itu begitu ramai. Penuh berdesakan. Antrian bianglala dan kuda-kudaan penuh oleh anak-anak yang didampingi oleh orang tua masing-masing. Kolam plastik yang berisi ikan-ikanan yang dikelilingi anak kecil dengan alat pancing di tangan mereka. Belum lagi para penjual balon, terompet, gula kapas, dan jajanan pasar.
Dasrun mengelilingi stand-stand yang ada disana. Hingga akhirnya dia berhenti di dekat mobil karavan. Mobil itu didandani dan diberi tenda didepannya. Di tenda itu ada seorang gadis bermain gelang kayu yang diletakkannya dipinggang, serta kedua tangannya. Dasrun terkesima melihat kepiawaian gadis itu memutar-mutar gelang kayu yang diletakkan ditubuhnya. Disebelah gadis itu ada seorang lelaki dengan sebuah topi hitam dan tongkat. Diketuknya topi itu dengan tongkat, kemudian bunga-bunga muncul diatasnya.
Sulap, Rama juga suka melihat atraksi sulap. Berkali-kali Rama bermain sulap uang koin yang tiba-tiba lenyap dari tangannya. Dasrun sudah tahu triknya, tapi toh dia juga bertepuk tangan setiap kali Rama menunjukkan atraksi itu.
"Gawat bos, Roni kecelakaan. Motornya terbalik dan dia luka-luka. Sekarang sedang dibawa kerumah sakit". Seseorang wanita bertubuh kurus tinggi keluar dari mobil karavan dan mengatakan hal tersebut kepada si Pesulap. Atraksi sulap pun terhenti.
"Aduh, kacau semuanya. Sudah kubilang tadi seharusnya kita berangkat bersama-sama saja. Kalau sudah begini siapa yang menjadi badut?" Ujar si Pesulap sambil berlari ke belakang karavan. Dasrun kaget, tiba-tiba dia melihat secercah harapan.
Dasrun mengelilingi stand-stand yang ada disana. Hingga akhirnya dia berhenti di dekat mobil karavan. Mobil itu didandani dan diberi tenda didepannya. Di tenda itu ada seorang gadis bermain gelang kayu yang diletakkannya dipinggang, serta kedua tangannya. Dasrun terkesima melihat kepiawaian gadis itu memutar-mutar gelang kayu yang diletakkan ditubuhnya. Disebelah gadis itu ada seorang lelaki dengan sebuah topi hitam dan tongkat. Diketuknya topi itu dengan tongkat, kemudian bunga-bunga muncul diatasnya.
Sulap, Rama juga suka melihat atraksi sulap. Berkali-kali Rama bermain sulap uang koin yang tiba-tiba lenyap dari tangannya. Dasrun sudah tahu triknya, tapi toh dia juga bertepuk tangan setiap kali Rama menunjukkan atraksi itu.
"Gawat bos, Roni kecelakaan. Motornya terbalik dan dia luka-luka. Sekarang sedang dibawa kerumah sakit". Seseorang wanita bertubuh kurus tinggi keluar dari mobil karavan dan mengatakan hal tersebut kepada si Pesulap. Atraksi sulap pun terhenti.
"Aduh, kacau semuanya. Sudah kubilang tadi seharusnya kita berangkat bersama-sama saja. Kalau sudah begini siapa yang menjadi badut?" Ujar si Pesulap sambil berlari ke belakang karavan. Dasrun kaget, tiba-tiba dia melihat secercah harapan.
***
to be continued
NB : Tugas melanjutkan cerbung ini saya serahkan ke si cantik Ayu-Itik Bali. Yang bersangkutan udah setuju nih, dan saya yakin kalau dia yang melanjutkan, ceritanya akan menjadi semakin menarik.
to be continued
NB : Tugas melanjutkan cerbung ini saya serahkan ke si cantik Ayu-Itik Bali. Yang bersangkutan udah setuju nih, dan saya yakin kalau dia yang melanjutkan, ceritanya akan menjadi semakin menarik.










Dimana aku bisa dapat dasrun part 1-4 nya?
eh, ada link nya ternyata.. langsung ke TKP, baca dasrun 1-4.hehe
Dasrun alih profesi jadi pesulap juga ga ya?
roman-romannya sih gitu mbak lia, eh ga dink mbak.keiknya dasrun mau gantiin jadi badut... . demi anaknya
harapan apa ya yang dipikirkan dasrun?
hmmm
Wuihhhhhhhh,,, manstabbb,,, keren bener nih mbak Hen, ckckckck.... mau ngelamar jadi badut ah, mumpung lagi gendut, hehhe...
oiya mbak, cewek yang maen gelang itu "seorang gadis kan??" bukan "seekor gadis" hehehe,, correct dikit.. :)
ayo,, ayo.. dilempar ke siapa nih... kutunggu lemparan selanjutnya kemanaaaaa.. hehehe...
makasih ya mbak, dah mau repot nulis lanjutan ide isengku... salam kenal.. semoga ini jadi tanda perkenalan yang hangat,,, :)
@mbak iyha : hwahahaha *tepok jidat* makasih koreksinya mbak. keterlaluan banget itu salahnya. hihihi
uhuuuuy..... kereeen!!!!
semoga Dasrun bisa dapet uang yaa...
dan siapa tahu, bisa ajak Rama ke pasar Malam dengan gratis, hihihihi....
amiiiin amiiiin
mantap! saya juga melanjutkan kisah ini dari cabang usagi
wah mau alih profesi jadi badut ga ya dasrun?? mudah2an mau ya, hehehe... keren mba henny... ayo dilanjut ke sahabat yang lain, lempar saja, hehehe...
makasih ya dah mau lanjutin cerbung ini... :)
Hmmm, semoga Dasrun bisa memanfaatkan secercah harapan itu...
harapan apakah yang didapat?
kita tunggu cerita berikutnya
lanjutkan... salam sukses..
sedj
Aku kok kuatir cincinnya itu ilang jugak :(
(hihihihi.... parno gara2 kecopetan)
Hai mba Henny :)
Maap aku baru mampir ya...
Ketiban Dasrun juga rupanya :)
Makasih sudah bersedia melanjutkan ya mba :)
Keren ceritanya mba...
Ternyata jadi juga si Rama ke Pasar Malam ya:)
Salam kenal juga :)
@Bunda Shisil : sama-sama bunda..tugasnya sudah saya lempar ke itik bali. insyaallah lusa sudah dipost katanya
wah napa Dasrun enggak ikutan kontes The Master aja ya....
salam kenal mba heni,,,
wah imajinasi yang bagus dan tak terbayangkan sbelumnya...
mba,,mau ga joinan ama aku di kecubung pakdhe cholik blogcamp..???
jadinya Dasrun jadi badut kah?
hai mba henny, lanjutannya belum ada ya?? ehh btw mau jadi partnerku di kontes kecubungnya pakdhe cholik ga?? bareng mba puteri amarillis