Cerbung Dasrun Part V

Saat mbak Elsa mempublikasikan postingan cerbung Dasrun Part IV, saya berpikir ide ini sangat kreatif. Cerbung Dasrun Part I yang dibuat oleh mbak Iyha terus berlanjut menjadi Dasrun Part II oleh Bibi Titi Teliti (mbak Erry) dan Dasrun Part III oleh mbak Herien. Kemudian, karena komentar iseng saya di blog mbak Elsa (hehehe,,) akhirnya tugas ini pun dilempar ke saya. Meski harus dipending beberapa hari karena blog saya sedang dialihkan domainnya. Semoga mbak Elsa, mbak Iyha, mbak Erry, mbak Herien dan pembaca setia cerbung Dasrun tidak menyesal (maaf, hasilnya jadi begini..harap maklum..saya nggak pintar membuat cerita) membiarkan cerbungnya dilanjutkan oleh saya.

***

Madi berlari menjauhi rumah itu. Sungguh dia tidak menyangka betapa nasib mempermainkannya. Sambil berlari sekelebat ingatan berputar dalam otak Madi, bertahun-tahun yang lalu. Madi memejamkan mata, berusaha tidak mengingatnya lagi. Batinnya ingin berteriak, nafasnya tersengal-sengal ketika berhenti di pangkalan ojek. Ketika sebuah metromini berhenti tepat di depannya. Madi segera naik.

***

Setelah selesai mandi, Rama bergegas menuju meja. Melihat itu Dasrun semakin tertunduk. Bagaimana cara mengatakannya kepada Rama?

"Ayah, jadi kan nanti kita ke pasar malam?"
Semakin sedih hati Dasrun mendengarnya. Anak semata wayangnya begitu menantikan hari ini. Bagaimana mungkin dia harus mengecewakan anaknya. Rasanya tenggorokan Dasrun tercekat, tak satu katapun mampu terucap. Disesapnya segelas teh hangat, diucapkannya bismillah di dalam hati.

"Maaf anakku, sepertinya Ayah harus menunda janji kita hari ini. Malam ini Ayah sedang ada kerjaan. Besok malam saja ya nak..Insyaallah besok kita bisa pergi kesana". Ucap Dasrun sambil tersenyum.

"Tapi yah, Rama sudah bilang ke Dodo dan Daus. Mereka bilang mau meminjam helikopter yang akan Rama beli disana"
Ujar Rama lemah, matanya mulai berkaca-kaca.

Mendengar ucapan suaminya, Siti menyibakkan tirai kamar dan menuju meja. Ditatapnya Dasrun heran. Dasrun balik menatap Siti, tersenyum tenang. Siti yakin, Dasrun tak ingin berbohong. Siti mengangguk mengerti. Meskipun benaknya berpikir dari mana Dasrun bisa mendapatkan uang untuk mengajar anaknya pergi ke pasar malam jika tak selembar uang pun yang mereka miliki saat ini?

"Nak, itulah kenapa Ibu mengajarkanmu untuk selalu bersabar. Ayah sedang ada pekerjaan. Juga tidak mungkin kita hanya pergi berdua kesana. Jadi bersabarlah nak."

"Tapi Ayah tidak bohong kan? Dodo tadi mengejek Rama, katanya Rama cuma bohong."

"Tidak nak,,Ayahmu tidak berbohong. Insyaallah besok kita bisa pergi ke pasar malam."
Siti berusaha menenangkan hati anaknya. Rama pun mengangguk.

***

"Mas, sudahlah..jangan dipaksakan. Katakan saja yang jujur kepada Rama. Dia anak yang baik, pasti dia bisa mengerti"
Kata Siti setelah mencium tangan suaminya. Mereka baru saja selesai sholat Maghrib berjamaah dan Rama sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya di meja makan.

"Mas sudah janji dek, mas tidak tega mengecewakan rama"

"Tapi bagaimana caranya mas? kita tidak mungkin pergi kesana tanpa membawa uang sepeser pun. "

"Mas mau cari pekerjaan malam ini, siapa tahu bisa dapat rezeki. Mas akan berusaha dek."
Dasrun mengancingkan kemeja lengan pendeknya. Ketika dia akan keluar kamar, Siti menahan tangannya.

"Bawalah ini mas, kalau nanti rasanya agak sulit, dijual saja" Siti memberikan bungkusan kecil berisi cincin.

"Tapi kan ini dari Emak dek, janganlah barang sepenting ini dijual. Tidak baik, nanti Emak mengira kita tidak menghargai pemberiannya." Dasrun menolak, namu Siti tetap memaksanya memegang bungkusan kain itu.

"Emak sudah tua mas, beliau mengerti bahwa semua ini diluar kehendak kita. Janganlah berpikiran buruk."

Dengan berat hati Dasrun mengalah. Dimasukkannya juga bungkusan itu ke dalam kantung celana. Dasrun keluar kamar, diikuti Siti dibelakangnya. Dia berpamitan dengan Rama dan Siti menuju satu tempat yang dari tadi menjadi tujuannya malam ini. Semoga saja semua ini bisa membantu.

***

Dasrun tiba di pasar malam. Pasar itu begitu ramai. Penuh berdesakan. Antrian bianglala dan kuda-kudaan penuh oleh anak-anak yang didampingi oleh orang tua masing-masing. Kolam plastik yang berisi ikan-ikanan yang dikelilingi anak kecil dengan alat pancing di tangan mereka. Belum lagi para penjual balon, terompet, gula kapas, dan jajanan pasar.

Dasrun mengelilingi stand-stand yang ada disana. Hingga akhirnya dia berhenti di dekat mobil karavan. Mobil itu didandani dan diberi tenda didepannya. Di tenda itu ada seorang gadis bermain gelang kayu yang diletakkannya dipinggang, serta kedua tangannya. Dasrun terkesima melihat kepiawaian gadis itu memutar-mutar gelang kayu yang diletakkan ditubuhnya. Disebelah gadis itu ada seorang lelaki dengan sebuah topi hitam dan tongkat. Diketuknya topi itu dengan tongkat, kemudian bunga-bunga muncul diatasnya.

Sulap, Rama juga suka melihat atraksi sulap. Berkali-kali Rama bermain sulap uang koin yang tiba-tiba lenyap dari tangannya. Dasrun sudah tahu triknya, tapi toh dia juga bertepuk tangan setiap kali Rama menunjukkan atraksi itu.

"Gawat bos, Roni kecelakaan. Motornya terbalik dan dia luka-luka. Sekarang sedang dibawa kerumah sakit". Seseorang wanita bertubuh kurus tinggi keluar dari mobil karavan dan mengatakan hal tersebut kepada si Pesulap. Atraksi sulap pun terhenti.

"Aduh, kacau semuanya. Sudah kubilang tadi seharusnya kita berangkat bersama-sama saja. Kalau sudah begini siapa yang menjadi badut?" Ujar si Pesulap sambil berlari ke belakang karavan. Dasrun kaget, tiba-tiba dia melihat secercah harapan.

***

to be continued


NB : Tugas melanjutkan cerbung ini saya serahkan ke si cantik Ayu-Itik Bali. Yang bersangkutan udah setuju nih, dan saya yakin kalau dia yang melanjutkan, ceritanya akan menjadi semakin menarik.



19 komentar: