Malam itu, sepulang dari tahlilan empat puluh hari meninggalnya Todi, Fikri mengutarakan niatnya kepada kedua orangtuanya.
"Sita? Sita pacar almarhum temanmu itu?" tanya Ibu sembari melirik Ayah yang juga bingung.
"Iya bu, dia..sedang hamil"
"Astaghfirullahaladzim..masyaallah nak..kenapa bisa seperti itu?. Astaghfirullah.." Ibu dan Ayah berulang kali mengucap istighfar
"Jangan salah paham bu,yah..bukan saya yang melakukannya!" Maka Fikri menceritakan semuanya, pesan terakhir Todi ketika ajalnya menjelang dan juga janjinya untuk menyanggupi hal tersebut.
"Tapi nak, kamu belum juga selesai kuliah, dan yang lebih penting, tidak halal jika menikahi perempuan yang sedang hamil. Seharusnya kamu tahu itu. Apalagi hamil karena berzina, mau ditaruh dimana muka Ayah dan Ibumu ini? Apa pendapat orang-orang kalau mereka tahu anak laki-laki kebanggaan Ayah menikahi perempuan yang sedang hamil? Bisa-bisa justru kamu juga dituding sebagai pezina!"
Fikri terdiam, saat Todi mengucapkan permintaannya yang terakhirnya Fikri kalut. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya ingin meringankan beban sahabatnya itu. Ia tidak berpikir panjang. Benar kata Ayahnya..bagaimana mempertanggungjawabkan tindakannya ini? Bukan hanya dengan masyarakat, tapi juga dengan Allah.
***
Sita sudah berbicara dengan kedua orang tuanya. Mereka kaget, sekaligus marah. Namun tidak bisa berbuat apa-apa sebab semuanya telah terjadi. Mama tak henti-hentinya menangis, sedangkan Papa..hampir saja mengusirnya dari rumah jika tidak dicegah oleh Mama.
Sita merenung di dalam kamarnya, air matanya belum juga mengering. Seharusnya sejak awal ia menolak. Seharusnya mereka tidak melakukan perbuatan itu. Kenapa penyesalan selalu datang terlambat? Kenapa Todi justru harus pergi ketika semuanya baru saja akan dipertanggungjawabkan?. Sita tak henti-hentinya menangis, sungguh ia menyesali perbuatannya, menyesali hidupnya, menyesali semua yang telah terjadi.
Dan pesan terakhir Todi, semuanya membuat kepala Sita pusing. Todi, Fikri, bayi ini. Rasanya ia ingin mati saja. Sita tersentak, sudah cukup ia melakukan dosa. Jangan lagi ditambah dengan bunuh diri meskipun rasanya ia ingin mengakhiri semua ini. Mama juga masih terus menangis, Papanya bahkan tidak mau berbicara dengannya. Dunia ini jadi semakin berat karena kesalahannya. Ditambah lagi Todi sudah tidak ada, haruskah ia menanggung semua ini sendirian?
Sita teringat akan ucapan Todi dan janji yang saat itu juga disanggupi oleh Fikri. Bagaimana mungkin?. Saat itu rasanya Sita ingin sekali berteriak "Aku bukan barang! mana mungkin kamu menitipkan aku pada sahabatmu apalagi harus menikah dengannya!". Bukan berarti Sita membenci Fikri. Sungguh sedikitpun ia tidak membencinya. Justru Fikri terlalu baik. Dan dihatinya..Sita hanya mencintai Todi.
***
"Tak usah lagi kamu bicarakan tentang hal itu di depan kami!" Ayah bangkit dari sofa ketika Fikri datang untuk berbicara.
"Ayah, saya mohon izinkan saya untuk menikahinya. Ayah dan Ibu boleh mengatakan kepada orang-orang bahwa saya hanyalah bertanggung jawab atas janji yang sudah saya ucapkan. Saya tidak mau menjadi manusia yang munafik karena tidak bisa menepati janji yah".
Ayah dan Ibu sejenak membisu. Mereka tidak mau anaknya harus menanggung dosa karena mereka, tapi menanggung malu juga berat rasanya.
"Baiklah, Ayah mengizinkan kamu menikahinya, tapi dengan satu syarat"
"Kamu pasti tahu bahwa perempuan yang sedang hamil itu seharusnya tidak boleh dinikahi karena masa iddahnya belum habis, dalam hal ini adalah masa kehamilannya.Wanita yang hamil karena perbuatan zina tidak boleh dinikahkan, baik dengan laki-laki yang menghamilinya atau pun dengan laki-laki lain kecuali bila memenuhi dua syarat..."
"Saya tahu dua syarat tersebut adalah bahwa menikah boleh dilakukan hanya jika laki-laki tersebut taubat dari perbuatan zinanya, dan menunggu kosonganya rahim atau beristibra. Sedangkan saya bukanlah laki-laki yang berbuat zina. Tentang itu saya paham Ayah, saya berjanji tidak akan menyentuhnya sedikitpun sampai bayi yang dikandungnya lahir."
"Bukan itu saja nak, setelah bayi itu lahir kalian juga harus menikah lagi. Dengan demikian barulah semuanya menjadi sah dan halal dimata agama!" ucap Ibu seraya menghela nafas.
"Iya bu, saya mengerti. Saya harap Ayah dan Ibu percaya dengan saya. Insyaallah saya bisa menjalankan syarat tersebut". Fikri menarik nafas lega.
***
"Nggak mau! Sita nggak mau bertemu dengan mereka! Lagipula kenapa Mama dan Papa menyetujui hal seperti itu?"
"Sita, cuma ini jalan satu-satunya!. Perbuatan ini sudah membuat papa dan mama malu!"
"Nggak mau ma! Seharusnya Sita menikah dengan Todi, hanya saja Allah memanggilnya terlalu cepat. Sita nggak mau menikah dengan laki-laki yang tidak Sita cintai! Sita sanggup membesarkan anak ini sendiri! Jika bukan dengan Todi, Sita tidak akan menikah dengan siapa pun!" Wajah Sita memerah karena menahan emosi. Mau-maunya Fikri menikahi dia. Menepati janji katanya? Omong kosong!
"Jangan cuma memikirkan egomu sendiri! Pikirkan bayi yang ada didalam perutmu itu! Apa kamu tega membiarkannya lahir tanpa ayah? Apa kamu tega nantinya dia disebut-sebut sebagai anak haram? Masih untung ada Fikri yang mau membantu! Kamu pikir apa keluarganya juga tidak malu?" Mama menangis, tidak tahu lagi bagaimana harus menjelaskan kepada Sita.
Melihat mamanya menangis, Sita tidak sampai hati. Alangkah durhaka dirinya bila selalu membuat orang tuanya sedih karena kesalahannya. Benar kata mama, orang tua Fikri juga pasti malu harus menerimaku sebagai menantunya. Perempuan yang tidak dicintai anaknya, sedang hamil pula.
Sita berjalan menemui Fikri dan orang tuanya di ruang tamu
***
Suasana di rumah ramai meskipun hanya dihadiri oleh kerabat terdekat. Ya, keluarga Sita dan Fikri sepakat hanya mengundang keluarga masing-masing. Tidak ada resepsi, tidak ada panggung meriah dan arak-arakan. Seperti yang Sita inginkan, cukup akad nikah saja.
Saat mengucapkan dua kalimat syahadat, rasanya kerongkongan Sita tercekat. Beberapa detik ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun, tak bisa berucap. Namun ia menghela nafas, kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat dan dilanjutkan dengan ayat pendek. Kini cincin telah tersemat di jarinya. Sita menyalami kedua orang tuanya dan orang tua Fikri, Ayah dan Ibu mertuanya. Sita menangis..tanpa ada satupun yang tahu makna tangisannya.
***
Tiga bulan kemudian...
Fikri keluar kamar dan berjalan menuju ruang makan. Dilihatnya nasi goreng dan teh hangat sudah tersedia di atas meja. Fikri duduk untuk menyantap sarapan pagi, dilihatnya sudah pukul 7.30, dia harus buru-buru. Selesai makan, diletakkannya piring dan gelas kotor di bak cuci piring. Segera dihidupkannya motor dan berangkat ke kampus.
Sita melihat piring dan gelas sudah diletakkan di bak cuci. Fikri pasti sudah pergi, pikirnya sambil mencuci. Selesai mencuci, Sita menuju kamar. Ia membawa semua pakaian kotornya. Setelah dicuci, kemudian ia keringkan di belakang rumah. Dilihatnya pakaian Fikri yang masih basah, tapi sudah tersusun rapi di tali jemuran.
Dia tinggal dengan Fikri disebuah rumah yang disediakan oleh orang tua Sita. Sebab mereka tidak mau menyulitkan Fikri yang harus menghidupi Sita. Awalnya Fikri menolak dan mengatakan bahwa dia memiliki pekerjaan sampingan sebagai guru privat. Tapi orang tua Sita tetap memaksa, Fikri jadi tidak enak untuk menolak.
Dan inilah yang dilakukan Sita setiap hari. Menyiapkan sarapan, mencuci piring dan pakaian, kemudian menyetrika. Hanya itu saja, sebab ketika ia keluar kamar untuk membuat sarapan, rumah pasti sudah dibersihkan oleh Fikri. Pakaian Fikri juga sudah dijemur.
Tempat tinggal mereka hanya memiliki satu buah kamar. Dulu Sita sempat khawatir, karena meskipun Fikri sudah resmi menjadi suaminya, Sita masih merasa sungkan. Untung saja Fikri mengerti. Maka mereka tidur di ruang terpisah. Sita tidur di dalam kamar, sedangkan Fikri tidur di sofa. Pernah suatu ketika Fikri terlihat letih, pulang jam 9 karena harus mengajar privat terlebih dahulu kemudian tertidur di dalam kamar. Untuk itu Sita harus mengalah, bergantian untuk tidur di sofa.
Tempat tinggal mereka hanya memiliki satu buah kamar. Dulu Sita sempat khawatir, karena meskipun Fikri sudah resmi menjadi suaminya, Sita masih merasa sungkan. Untung saja Fikri mengerti. Maka mereka tidur di ruang terpisah. Sita tidur di dalam kamar, sedangkan Fikri tidur di sofa. Pernah suatu ketika Fikri terlihat letih, pulang jam 9 karena harus mengajar privat terlebih dahulu kemudian tertidur di dalam kamar. Untuk itu Sita harus mengalah, bergantian untuk tidur di sofa.
Perut ini sudah semakin membesar, batin Sita dalam hati. Sudah masuk bulan keenam. Hidup seperti ini terus-menerus rasanya jenuh sekali. Apalagi sekarang Sita mengambil cuti kuliah. Meskipun sesekali ia berjalan-jalan bersama teman-temannya, tapi seiring perutnya yang kian membesar, ia menjadi malas untuk keluar rumah.
Dering ponsel Sita berbunyi. Di layar ponsel tertera nomor yang tidak ia kenal.
"Assalammu'alaikum" ucap si penelpon
"Waalaikumsalam..maaf ini siapa ya?" jawab Sita
"Ini Dion, apa kabarmu?"
Dion? buat apa Dion menelponnya? Padahal sejak Sita putus dengannya, Sita langsung mengganti nomor handphone. Saat Sita masih berpacaran dengan Todi, Dion juga tidak pernah menghubunginya. Sita bingung.
"Baik. Ada perlu apa? kok bisa tahu nomorku?"
"Mm..cuma mau tanya kabar aja. Aku sering mencarimu di kampus..tapi kata teman-temanmu kamu sekarang sudah cuti. Sudah berapa bulan sekarang?"
"Sudah masuk 6 bulan" muka Sita memerah, terbersit rasa malu saat mendengar Dion bertanya tentang hal ini.
"Oh..ya sudah..jaga kesehatan ya, jangan lupa makan sayur-sayuran. Jangan sampai kamu sakit. Aku tutup dulu teleponnya. Lagi ada kerjaan nih. Nanti aku hubungi lagi. Assalammu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Ditekannya tombol merah di ponsel. Ada sedikit rasa damai terbersit dalam hati Sita. Tapi Sita semakin bingung. Meskipun hanya sekedar bertanya kabar, sangat aneh jika Dion tiba-tiba menelpon lagi. Apalagi berjanji akan menghubungi lagi.
***
Malamnya, saat Sita dan Fikri sedang duduk di meja makan. Ponsel Sita berbunyi lagi.
"Handphonemu berbunyi, angkatlah dulu" ucap Fikri
"Aku lagi makan, biarin aja. Kalau penting juga nanti ditelpon lagi" jawab Sita sambil meneruskan makan.
"Angkatlah dulu Sita, siapa tahu penting" Fikri memaksa. Sita beranjak dari kursi dan mengambil ponselnya. Lima menit kemudian ia kembali ke meja makan.
"Siapa yang menelpon?" tanya Fikri
"Dion, teman lamaku"
"Dion...rasanya aku kenal. Apa itu mantanmu yang dulu sering diceritakan oleh Todi?" rasa penasaran menghinggapi Fikri.
"Iya, kayaknya dulu Todi banyak cerita ke kamu ya? Dia bilang ada undangan ulang tahun dari sepupunya untukku lusa nanti"
"Jadi kamu mau datang?"
"Nggak enak kalau ditolak, soalnya aku kenal dekat dengan sepupunya itu. Nggak apa-apa kan?"
"Mmm..ya, tidak apa-apa" Fikri menjawab tanpa ekspresi. Tentu saja dia tidak bisa melarang Sita bertemu dengan teman-temannya. Meskipun status mereka sekarang adalah suami istri, namun Fikri tetap menepati janjinya, tidak akan menyentuh Sita sampai akhirnya bayi itu lahir dan mereka menikah ulang. Itupun jika Sita mau.
***
Ketika Sita beranjak ke kamar setelah selesai membereskan semua cucian piring, dilihatnya Fikri sedang berada di kamar mengambil sarung dan sajadah.
"Mau sholat Isya' berjamaah? Di sini atau di luar aja?" tanya Fikri saat melihat Sita hendak masuk ke dalam kamar.
"Duluan aja, aku masih mau nonton dulu" Sita mengelak kemudian duduk di depan televisi yang terletak di ruang tamu sementara menunggu Fikri selesai sholat. Sudah berkali-kali Fikri menyuruhnya shalat tapi Sita terus mengelak. Sita mengganti saluran televisi, sebenarnya ia sendiri tidak tahu mau menonton apa. Dari arah kamar sayup-sayup terdengar suara Fikri yang sedang membaca ayat Al qur'an. Suaranya begitu halus dan merdu. Tentu saja, Fikri kan anggota Rohis di kampus.
Begitu Fikri selesai mengaji dan keluar kamar, dilihatnya Sita sudah tertidur di sofa dan televisi masih dalam keadaan menyala. Raut wajahnya seperti kelelahan. Fikri maklum, dengan usia kandungan yang sudah masuk 6 bulan tentu semakin mudah capek. Kemudian Fikri menggendong Sita, dibaringkannya tubuh Sita di tempat tidur dan ditutupinya dengan selimut. Fikri duduk di tepi tempat tidur, dipandanginya wajah Sita. Ingin rasanya ia membelai rambutnya, mencium keningnya. Namun ia tahu ini belum saatnya.
***
2 hari kemudian...
Sita sudah meminta izin kepada Fikri sebelum Fikri berangkat ke kampus. Jam 3 sore nanti ia akan pergi ke pesta ulang tahun sepupu Dion. Segera Sita mengerjakan semua pekerjaan rumah. Pukul 2 siang semuanya sudah beres. Dion mengatakan bahwa ia akan menjemput Sita jam setengah 3. Sita juga sudah mengirimkan alamat rumahnya lewat SMS. Tadinya Sita tidak ingin dijemput, tapi Dion bilang mungkin acaranya selesai pukul 5, bisa juga lebih. Daripada nanti Sita pulang kemalaman, lebih baik diantar dengan mobil..jadi bisa lebih cepat tiba di rumah.
Pukul setengah 3 tepat Dion tiba di rumah. Sita yang sudah lama tidak melihat Dion tampak tercengang. Ia terlihat banyak berubah, tubuhnya tinggi dan lebih putih. Tidak seperti waktu masih SMA. Dion tersenyum dan mengajak masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan mereka bercakap-cakap. Dion masih seperti yang dulu, humoris. Sita jadi lebih banyak tertawa. Setibanya mereka di rumah sepupu Dion, Sita disambut dengan hangat oleh keluarga besar Dion. Ia teringat saat masih berpacaran dengan Dion memang keluarga Dion sangat ramah kepadanya. Acara hari itu berlangsung meriah.
Setelah acara selesai, Dion mengajak Sita duduk di taman rumah.
"Aku senang melihatmu tersenyum lagi" ucap Dion sambil tersenyum menatap Sita.
"Lho, aku memang selalu tersenyum kok" balas Sita.
"Yah, aku pikir 3 bulan kemarin pasti cukup berat buatmu. Setidaknya sekarang aku tahu bahwa kamu baik-baik saja".
Sita agak terkejut mendengar ucapan Dion. Tapi ditutupi rasa terkejutnya itu dengan berpura-pura santai. Apakah Dion tahu semua ceritanya?
"Aku sudah tahu semua ceritanya, Sita" Dion menjawab seakan-akan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Sita.
"Jika saja aku tahu hal itu lebih dulu, mungkin ceritanya sekarang sudah berbeda"
"Apa maksudmu?" tanya Sita bingung.
"Ya, andai aku tahu dari dulu..aku pasti langsung melamarmu. Aku mau bertanggung jawab atas bayi itu, meskipun bayi itu bukan anakku. Aku masih mencintaimu Sita. Dari dulu...hingga saat ini" Dion menatap lurus ke arah Sita, wajahnya terlihat sangat serius.
"Mmm..yah, toh semuanya sudah terlanjur terjadi. Terima kasih untuk perasaanmu selama ini" jawab Sita.
"Tapi apa kamu akan terus hidup bersama dia? Aku tahu dia cuma sahabat Todi dan kamu tidak ada perasaan sedikit pun dengannya."
Lagi-lagi Sita terkejut. Sebanyak itukah yang diketahui Dion tentang hidupnya, perasaannya?
"Mama mu yang menceritakan semua itu kepadaku. Sebenarnya beliau juga sedih melihatmu begini, tapi ia bilang ini tidak akan lama. Setelah bayimu lahir kamu bisa berpisah dengan Fikri"
"Aku ingin menikah denganmu Sita, izinkan aku menjadi ayah dari bayi itu. Ayah yang sebenarnya, selamanya..bukan hanya sementara. Aku mengerti dengan statusmu saat ini. Aku bisa bersabar hingga bayi itu lahir dan hingga akhirnya kamu berpisah dengan Fikri. Aku selalu menunggumu, sejak 4 tahun yang lalu. Bagiku menunggu 3-4 bulan lagi tidak akan terlalu lama"
***
Setiba dirumah, Fikri ternyata sudah pulang. Fikri menyambut Sita didepan pintu dengan wajah dingin.
"Nah sudah sampai, terima kasih ya Sit sudah bersedia hadir di ultah sepupuku. Jaga dirimu ya... " tukas Dion sambil tersenyum.
"Makasih juga sudah mengantarku pulang" jawab Sita.
"Jangan bosan ya jalan denganku..." ujar Dion sambil mengedipkan sebelah matanya.
Sita hanya menjawab dengan senyuman seraya turun dari mobil Dion.
"Aku pulang dulu ya... Yuk Fikri..." pamit Dion.
Fikri hanya melambaikan tangan sambil tersenyum kecut. Mereka pun masuk kedalam rumah.
***
Ponsel Sita berdering, sementara Sita sedang mandi. Akhir-akhir ini ponsel Sita sering sekali berbunyi. Apa saja isinya?. Dengan tangan bergetar Fikri mengambil ponsel tersebut. Penasaran dia ingin tahu sms dari siapa itu. Maafkan aku Sita, batin Fikri berbicara.
"Kau sudah tahu isi hatiku yang sebenarnya Sita. Aku mohon kali ini jangan menolak lagi. Aku akan memberikanmu waktu untuk memikirkannya"
Sms itu berasal dari Dion. Biarpun hanya sepenggal kalimat, Fikri dapat menerka maksud dari sms tersebut. Karena kesal, Fikri menutup ponsel tersebut dan diletakkannya dengan kasar. Sayangnya Sita melihat semua itu.
"Apa yang kamu lihat dari ponselku?"
Fikri menoleh, ternyata Sita sudah berada di ambang pintu.
"Ada sms dari Dion" Fikri menjawab singkat.
"Lalu kamu membacanya? kamu sudah melanggar privasiku! Lagipula apa hakmu membuka-buka ponselku?" Sita geram dengan tindakan Fikri. Dibukanya ponsel tersebut dan membaca sms dari Dion.
"Hak katamu? tentu saja aku punya hak! Aku kan suamimu!" Tanpa Sita sangka ternyata Fikri menjawab seperti itu. Fikri terlihat sangat marah. Namun Sita terlanjur kesal karena privasinya dilanggar.
"Suami? memangnya kamu siapa berani-beraninya seperti itu? kamu kan cuma suami kontrak!" Dalam hatinya Sita agak sedikit menyesal telah mengeluarkan kata-kata itu kepada Fikri. Bukankah justru pernikahan ini demi kebaikannya dan kebaikan si buah hati juga. Tapi dia memang benar-benar kesal sekali jika privasinya dilanggar seperti tadi. Jantung Fikri bergetar mendengar ucapan Sita. Suami kontrak. Hanya sebatas itukah Fikri di mata Sita?
Fikri yang emosi karena perasaan cemburu merasa sakit hati mendengar Sita menyebut dirinya suami kontrak. Bagaimana kehidupan rumah tangga Fikri dan Sita selanjutnya? Apakah akhirnya Sita memilih untuk meninggalkan Fikri? Bagaimana akhir dari kisah ini? Baca kelanjutan kisahnya blog Rumah Hujan milik Puteri Amirillis
NB : Cerita ini diikutsertakan dalam pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com
Dipersembahkan oleh "Cerita Bunda". Didedikasikan untuk para Orang Tua, Pemuka Agama, Pemimpin Bangsa, Pendidik, Muda Mudi, para Blogger, dan seluruh masyarakat pada umumnya. Jagalah anak, umat, rakyat, siswa siswi, diri kita.sendiri serta masyarakat;. auhilah pergaulan bebas karena akan meruntuhkan masa depan kita dan masa depan bangsa ini.
Dukung SEO positif.
"Kau sudah tahu isi hatiku yang sebenarnya Sita. Aku mohon kali ini jangan menolak lagi. Aku akan memberikanmu waktu untuk memikirkannya"
Sms itu berasal dari Dion. Biarpun hanya sepenggal kalimat, Fikri dapat menerka maksud dari sms tersebut. Karena kesal, Fikri menutup ponsel tersebut dan diletakkannya dengan kasar. Sayangnya Sita melihat semua itu.
"Apa yang kamu lihat dari ponselku?"
Fikri menoleh, ternyata Sita sudah berada di ambang pintu.
"Ada sms dari Dion" Fikri menjawab singkat.
"Lalu kamu membacanya? kamu sudah melanggar privasiku! Lagipula apa hakmu membuka-buka ponselku?" Sita geram dengan tindakan Fikri. Dibukanya ponsel tersebut dan membaca sms dari Dion.
"Hak katamu? tentu saja aku punya hak! Aku kan suamimu!" Tanpa Sita sangka ternyata Fikri menjawab seperti itu. Fikri terlihat sangat marah. Namun Sita terlanjur kesal karena privasinya dilanggar.
"Suami? memangnya kamu siapa berani-beraninya seperti itu? kamu kan cuma suami kontrak!" Dalam hatinya Sita agak sedikit menyesal telah mengeluarkan kata-kata itu kepada Fikri. Bukankah justru pernikahan ini demi kebaikannya dan kebaikan si buah hati juga. Tapi dia memang benar-benar kesal sekali jika privasinya dilanggar seperti tadi. Jantung Fikri bergetar mendengar ucapan Sita. Suami kontrak. Hanya sebatas itukah Fikri di mata Sita?
***
Fikri yang emosi karena perasaan cemburu merasa sakit hati mendengar Sita menyebut dirinya suami kontrak. Bagaimana kehidupan rumah tangga Fikri dan Sita selanjutnya? Apakah akhirnya Sita memilih untuk meninggalkan Fikri? Bagaimana akhir dari kisah ini? Baca kelanjutan kisahnya blog Rumah Hujan milik Puteri Amirillis
NB : Cerita ini diikutsertakan dalam pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com
Dipersembahkan oleh "Cerita Bunda". Didedikasikan untuk para Orang Tua, Pemuka Agama, Pemimpin Bangsa, Pendidik, Muda Mudi, para Blogger, dan seluruh masyarakat pada umumnya. Jagalah anak, umat, rakyat, siswa siswi, diri kita.sendiri serta masyarakat;. auhilah pergaulan bebas karena akan meruntuhkan masa depan kita dan masa depan bangsa ini.










alhamdullillah kita udah posting...
sukses dengan kontesnnya ya
wa,ceritanya bagus...moga menang.salam kenal,klu ada waktu kunjungi blog ane ya
wahh, mba Henny ikutan kecubung 3 warna ya... saya ingin ikutan, tapi belum nemu partner, hiks..
padahal closing date 30 maret'11, cukup ga ini waktunya kalo mw ikutan...
btw bikinnya berapa lama mbak??
belum begitu ngeh soal kontesnya hen. satu cerita dibikin bertiga gitu? susah dong.
Btw, aku abis benahin blog, daftar link aku bikin blogroll. Pas aku masukin url henny, kok ada tulisan yg intinya bilang 'judul & tgl ga bisa keluar', pdhal yg lain bisa lho.
Stlh cape coba2 benerin n gagal, akhirnya aku terima apa adanya deh. Nama blog henny tercantum, tapi judul terbaru & tglnya ga ada.
Sori ya hen, itu bukan kesengajaan.
ceritanya bagus lho mbak... Pinter juga ya buat cerita, semoga menang ya mbak.
Salut buat "Cerita Bunda" semoga kerjasamanya dapat berlanjut terus setelah "kecubung 3 warna" ya? Siapa tahu bisa nerbitkan buku juga tuh,
Hebat, bisa buat cerita fiksi. Shasa belum bisa.
Selamat mengikuti kontes ya tante, semoga menang. Amin.
@ica : kalau nggak salah bikin ceritanya 5 hari (untuk 3 orang). kalau rajin diskusi bisa cepat selesai kok mbak ^^
@eha : nggak apa-apa mbak, aku juga udah liat. mungkin emang setting dari blognya begitu karena keterbatasan template (sok tahu deh henny. hahaha)
@shasa : rajin-rajin menulis ya sha, insyaallah nanti bisa. tante aja sebenarnya nggak bisa kok :P
Sebagai sesama peserta kontes, semoga kita bisa sama-sama jadi pemenang. amin.
Kereen ceritanya, panjang sampe ngelongo bacanya... karena terpesona alur ceritanya. Ya Tuhan, kenapa Todi harus meninggal... trus kenapa Orang tua Sita memaksakan kehendaknya..
ah, yang jelas cerita ini bagus banget.
semoga menang ya Henny!
saya belum baca sampai habis...tapi saya pernah nonton film amerika yang punya inti cerita senada. Sang cowok cinta mati sama si cewe. Sampai si cewe hamil dan aborsi, si cowo setia menunggui dan membongkar tabungan demi cintanya. Begitu selesai aborsi, ternyata si cewe kembali ke cowo yang menghamilinya... yang saya suka cerita ini dibumbui dengan menyelipkan dakwah....mengenai pernikahan...semoga menang ya mbak2
Pada NB. anchor text "Kecubung 3 Warna " link tidak menyala, apakah belum dipasang link ?
Coba cek lagi, jika belum dipasang agar segera dipasang.
------
Terima kasih atas partisipasi sahabat.
Saya akan melanjutkan perjalanan ke kisah selanjutnya
Daftar seluruh peserta dapat dilihat di page Daftar Peserta Kecubung 3 Warna
di newblogcamp.com
Salam hangat dari Markas BlogCamp Group - Surabaya
@abi : amin..makasih mas abi
@gaphe : makasih..ga ikutan juga nih??
@necky : senang kalau ada yang mengerti pesan dari cerita ini, niat kami bertiga memang meluruskan pandangan tentang itu, karena yang terjadi dalam masyarakat adalah bahwa jika terlanjur hamil..tinggal dinikahi saja maka perkara selesai. padahal itu kan salah.
oo..ternyata ada film yang jalan ceritanya kayak gini ya??baru tahu nih..hehehe
@pakde : kelalaian saya nih pakde, makasih sudah mengingatkan ^^
sukses buat kontes nya teh :)
wahhh ceritanya seruuu yachhh
Wah aku gantung baca di tengah!! *lanjut ke yang pertama dan ketiga*
waduh engga bisa dibayangin seandainya si Fikri itu adalah diriku.. bisa stres aku lah yaw...
BTW mantep nih cerpennya.. langsung ke cerita selanjutnya ah...
semoga sukses kontesnya... panjaaaaaang banget postingnya... :D
semoga sukses....
kecubung tiga warna nih
smoga sukses mbak..
"Bukan itu saja nak, setelah bayi itu lahir kalian juga harus menikah lagi. Dengan demikian barulah semuanya menjadi sah dan halal dimata agama!" ucap Ibu seraya menghela nafas.
wah.. saya baru tahu mbak. Alhamdulillah, dapat ilmu lagi.
semoga sukses ya :D
waah, masih bersambung ternyata.
ceritanya bagus, ngalir, dan enak dibaca juga :)
nice story sahabat, menginspirasi untuk semua, :)
salam,
nice story,
moga menang mbak...salam kenal
benar-benar cerita yang panjang namun layak untuk dibaca. Banyak sekali kejutan ya, saya tertarik
cerita sudah dicatat dalam buku besar juri, terima kasih
Ada tokoh baru yang lebih prospektif.
Lanjut ke tekape 2. Kejutan apalagi yang kudapat, ya?
Salam sukses.
henny... kangen nih diskusi lagi spt kemarin2, hehehe...
ohya mba puteri kan mo umroh say tgl 29 ini, so... kita musti gantiin belio nih jagain rumah hujannya, hehehe
Pernikahan adalah komitmen. Hadirnya pihak ketiga tentu akan menghancurkan kebahagiaan.
Kisah telah disimpan dalam memori untuk dinilai.
Salam hangat selalu.
ceritanya bagus bgttt, aku suka...:D
inspiring kisah ceritanya,,,
tumb;
yang part 1 nya mana mbak? :O
huaa.. bagus bgt ceritanya mba. Kesel sama Sita. Sudah untung ada yg mau bantu.. iiih..
@nindaa : link untuk bagian pertama ada kok diatas nin ^^
Keegoisan dan kurang bersyukur menjadikan hati sita beku, tak bisa menerima kebaikan,, semoga kita terhindar dari sikap seperti itu,, bertaubat adalah lebih baik... :)
OK, walaupun agak terlambat, Juri Kecub datang,, untuk mengecup karya para peserta,, mencatat di buku besar,, semoga dapat mengambil hikmah setiap karya dan menyebarkannya pada semua…
sukses peserta kecubung 3 warna.. :)
Ugh...suami kontrak. nice story. lanjut aah.. Gudlak untuk kontesnya mba ;)
@bunda shisil : semoga silaturahmi ini nggak berhenti sampai disini aja ya mbak. tanggal 29 berarti hari ini dong?
kangen mbak henny ^^sehat-sehat selalu ya bumil...
Semoga berjaya di kontesnya
Mba Henny, apa kabar? Salam kenal yah dari Bunda Zahia. Thanks dah main ke rumah keluargazulfadhli :-)
Ceritanya bagus. Sebenernya dari pas Cerita Bunda tayang gw dah sempet baca khatam (ke rumah Bunda Shishil, Mba Yenny, terus ke Mba Puteri), tapi belom sempet komen dimari hehehe
Btw lagi hamdun juga neh kaya ekye? Dah berapa bulan Mba? Sehat2 terus yah Say (untuk kita). Amien