Belajar Food Photography

10 komentar Thursday, March 24, 2016


Meski belum bisa dibilang sempurna, tapi setidaknya ada kemajuan :)

Awal mula saya belajar memotret makanan adalah September 2014. Saat itu saya masih menggunakan hp Lenovo. Asal jepret kalo boleh saya bilang. Itupun cuma beberapa buah cookies yang saya tata di piring lalu diletakkan di atas nampan. Tidak ada styling, apalagi konsep. Hasilnya? ya gitu deh..biasa. Beberapa bulan mencoba lagi juga merasa tidak pernah puas. Pasti ada aja yang terasa kurang pas, hingga akhirnya saya mencoba memotret dengan menggunakan DSLR.

Kamera yang saya gunakan adalah Canon EOS 50D milik suami tapi saya sendiri nggak belajar memotret dengan dia. Kenapa? karena dijelasin berkali-kali tetap aja nggak ngerti. hahahaha. Jadi proses belajar saya adalah trial and error (dan kebanyakan error nya) secara teori, saya banyak belajar dari ebook fotografi, salah satunya adalah dari majalah online Rasa Indonesia.

Dulu, setiap habis motret yang paling lama adalah proses editingnya (gaya deh, padahal ngedit terlalu banyak karena fotonya nggak beres). Tapi seiring berjalannya waktu dan sedikit sentilan dari pak suami yang katanya "kalo mau beneran jago harus jago motret, bukan jago ngedit foto", jadilah proses edit foto itu hal yang paling saya minimalisir.

Dari beberapa buku yang saya baca, saya mau berbagi sedikit tips simpel tapi penting seputar memotret makanan. Cekidot!

Jadi yang paling pertama saya pelajari adalah : Matikan flash!
Flash kamera ataupun handphone hanya membuat warna makanan menjadi tidak natural.

Kedua, Tentukan konsep.
Seperti contoh foto donat di atas, konsepnya adalah sarapan pagi. Jadi dengan menentukan konsep, kita bisa mengatur properti apa yang layak dan cocok digunakan untuk mendukung konsep yang kita buat. (misal, sarapan pagi adalah donat, piring kecil, segelas susu, sedikit gula taburan donal dll)

Ketiga, Cari cahaya natural.
Yang paling mudah adalah cahaya matahari. Untuk cahaya yang lembut bisa pada jam 8-10 pagi atau jam 3-5 sore. Hindari jam 12 siang (karena panas terik bo!) karena cahaya pada jam tersebut terlalu keras.

Keempat, Atur white balance.
Menurut wikipedia, white balance adalah istilah fotografi untuk kalibrasi titik berwarna putih. Terjemahan sederhana versi saya, keseimbangan warna putih. Maksudnya putih yang benar-benar putih. bukan agak kekuningan, atau agak kebiruan. Biasanya di setiap kamera ada setting di mana kita bisa mengatur WB (misal, untuk siang hari bisa gunakan WB daylight, atau cloudy pada saat cuaca agak mendung)

Kelima, Temukan komposisi dan angle yang pas!
Untuk makanan tertentu, terlihat lebih cantik bila difoto dari atas (Bird Eye) sedangkan untuk cake yang berlayer lebih cocok difoto dengan sudut sejajar (Eye Level / Eye View). Selain itu, penerapan komposisi (atau dalam fotografi disebut dengan Rule of third) yaitu teknik menempatkan objek utama foto diposisikan pada 1/3 bagian dalam foto.
Sebagai contoh foto di atas :


Di sini kita bisa menentukan objek utama apakah letaknya di tengah, samping atau atas. Untuk foto ini saya menggunakan angle eye level (contoh angle bird eye dll bisa googling ya).

Keenam, Diedit sedikit nggak dosa kok!
Dengan catatan diedit untuk menutupi kekurangan yaa, bukan supaya jadi keren. Misal kalo fotonya miring, bisa di-adjust atau crop bagian-bagian yang nggak sengaja ikutan masuk ke dalam foto (dalam contoh foto di atas, saya ngecrop cangkir susu supaya sendoknya nggak keliatan) atau menambah saturasi warna supaya makanan nggak terlihat pucat. Editnya pake apa? bisa pakai Photoshop, Adobe Lightroom atau yang paling gampang ya pake aplikasi Photoscape atau edit langsung di instagram

Dan terakhir, Practice..practice..practice!!
Pepatah bilang "alah bisa kareana biasa" semakin sering kamu latihan, semakin banyak yang kamu pelajari dan tidak menutup kemungkinan bakal tambah jago! Selamat mencoba :)

sedikit ekstra dari saya, behind the scene motret si donat ala sarapan pagi. Cahaya dari arah jam 8, reflektor dari styrofoam di sebelah kanan. Pukul 9 pagi, Data exif : 1/50s f 3.5 ISO 200.

Read On

Donat Praktis Tanpa Diuleni

3 komentar Tuesday, March 1, 2016


Padahal lebih cakep kalo dikasih taburan gula halus,
tapi yaa,,ini sudah terlanjur pake filling coklat sih.

Belakangan anak bujangku maunya makan terus. Kadang cuma selang 2 jam dari makan siang sudah cari-cari camilan. Kalo kata bapaknya sih dia lagi ngidam kali (lha,,saya yang hamil, anak yang ngidam. Baru juga denger yang begini nih :D ).

Usia kandungan udah masuk 24 minggu, saya jadi rajin banget. Tiap hari masak (ups, biasanya masih suka malas dan beli lauk jadi di warung), tiap hari ada aja yang mau dibikin. Ini terasa beda dibandingkan 3-4 bulan pertama kemarin yang maunya cuma tiduran melulu tapi makan tetap jalan terus, hahaha.

Seperti sore kemarin, maunya ada camilan, tapi malas beli karena suami lagi kerja. Jadi saya mencari resep praktis tapi ngenyangin dan ketemu lah resep ini di blognya mbak Diah Didi (saya kepoin resep di blogmu terus loh mbak). Setelah catat resep, baca semua komentar (membaca komentar itu pelu juga loh ya, kadang kita bisa dapat tips tambahan dari sini sekaligus tahu yang nyobain beneran sukses atau nggak), liat cara membuatnya akhirnya langsung saya eksekusi.

Pertama kali nyobain bikin, saya nggak pake mentega tapi pake margarin yang sedikit dicairkan. Padahal di resep tertulis harus pakai mentega (ngeyel karena malas keluar rumah) dan hasilnya adonanku sedikit lebih lembek dibandingkan seharusnya, mirip seperti adonan bakwan a.k.a bala-bala atau pancake, yang pasti nggak bisa dibentuk bulat. Jadinya malah seperti kue kamir :)) tapi alhamdulillah masih laku dan ludes.

Percobaan kedua, saya bela-belain beli mentega lagi di tbk. Mengikuti step by step sesuai instruksi, alhamdulillah adonannya jadi. Berikut resepnya yang sudah saya konversi ke ukuran sendok biar makin praktis ga perlu pakai timbangan lagi :

Donat Praktis

Bahan A : 
50 gr mentega tawar (3 sdm) 
50 gr gula pasir (2,5 sdm) 
2 butir telur 

Bahan B : 
200 ml susu cair 
6 gr ragi instan (2 sdt) 

Bahan C : 
300 gr tepung terigu (30 sdm / 2 3/4 gelas) 
1/2 sdt garam

topping : 
gula halus / coklat + 1 sdm margarin/ mentega yang dilelehkan. 

Cara membuat : 
- Campur semua bahan A, aduk rata dengan balon whisk. Harus mentega tawar ya, bukan margarin soalnya kalo margarin suka menggumpal. Aku pernah pake margarin cair dan gagal total  (baca di atas)
- Campur bahan B, tuang ke bahan A, aduk rata. 
- Campur bahan C, tuang sedikit sedikit ke bahan A sambil diaduk perlahan dengan spatula. (aduk lambat asal tercampur rata
- Tutup dengan plastic wrap, diamkan selama 30 menit sampai adonan mengembang 2x lipat. 
- Panaskan minyak, cetak adonan dgn menggunakan sendok (adonannya memang lembek, jd ga bisa dicetak pake cetakan donat, kecuali kalo punya sutil berbentuk donat). goreng dgn api kecil hingga kecoklatan. 
- Angkat, dinginkan, beri topping.

Sewaktu mencetak, saya juga bingung mau pakai sendok makan (instruksinya pakai sendok makan 2 buah yang sudah dicelup ke minyak supaya adonan tidak lengket) tapi kok hasilnya nggak bulat ya? alhasil saya genggam adonannya, trus saya pencet hingga adonannya keluar di antara jempol dan telunjuk (seperti membuat bakso) setelah itu baru saya sendok dan goreng, alhamdulillah bentuknya bulat. 

Read On