Ayam Tumbuk Pak Jun

0 komentar Tuesday, September 19, 2017

 

Assalammu'alaikum..kemarin saat ajak anak-anak jalan sore saya melihat ada tempat makan yang baru buka namanya Ayam Tumbuk Pak Jun, tapi tidak sempat mampir karena sudah mau maghrib. Penasaran, saya cari di instagram eh ternyata ada! Saya kepo-in dulu akunnya. Besoknya saya mampir ke sana untuk makan siang.

Lokasinya di ruko sebelum jalan masuk ke SMK (kalau dari arah Masjid Agung), persis di pinggir jalan sebelah kiri. Ada spanduk gede kok, pasti keliatan deh.




Tempatnya bersih, di bagian depan langsung berhadapan dengan dapur dan koki (atau jangan-jangan yang masak itu Pak Jun sendiri? saya lupa tanya, hihihi), ada wastafel untuk cuci tangan dan cermin juga (penting banget ;D )

Karena sebelumnya sudah kepo ke instagram, saya langsung memesan paket Ayam Mozarella, Paket Ayam Tumbuk dan Nasi Uduk Ungu. Menurut info dari pemilik rumah makan ini, Ayam Tumbuk Pak Jun ini cabang dari Palembang, sedangkan aslinya dari Yogyakarta. Untuk proses memasaknya sendiri ayam yang sudah dibumbui terlebih dahulu digoreng, sementara menggoreng koki membuat sambal. Untuk level pedasnya kita bisa request mau sepedas apa sambalnya. Setelah selesai menggoreng ayam tadi ditumbuk, kemudian diberi sambal di atasnya. Nah, bagian yang paling menarik, untuk ayam mozarella ditaburi keju mozarella diatasnya kemudian dibakar sedikit hingga meleleh.




Paket Ayam Mozarella (1 paket terdiri dari ayam, sambal, nasi, lalapan dan teh manis)
Rp 23.000
Paket Ayam Tumbuk (1 paket terdiri dari ayam, sambal, nasi, lalapan dan teh manis)
Rp 18.000


Kurang tempe sama tahu goreng aja nih


Kelihatan yaa,,sambalnya ngintip di balik lelehan keju mozarella


Nasi Uduk Ungu Rp 6.000


Kejunya mulur saat ditarik (^9^)

Ayamnya dibumbui dengan baik dan dimasak hingga lembut. Rasanya juga enak. Sambalnya jadi favorit saya. Sangat terasa bawang putih dan cabai segar. Meskipun saya tidak meminta level tertentu tapi menurut saya pedasnya luar biasa (tapi tidak membuat sakit perut, ini juga penting karena saya pernah makan ayam di suatu tempat dan sambalnya membuat perut melilit). Anak saya suka banget dengan Nasi Uduk Ungu nya. Saya sempat bertanya ke pemilik rumah makan ini, ternyata warna ungu pada nasi uduk didapat dari ubi ungu (meskipun nasi ini sama sekali tidak ada rasa ubi, tapi memang ada beberapa potong ubi ungu di nasi uduknya).



Untuk range harga termasuk murah untuk per paket ya, kalau pesan satuan jadinya sedikit lebih mahal. Karena masih promo, Ayam Tumbuk Pak Jun mengadakan giveaway dan diskon 10%. Infonya bisa lihat di akun instagram @AyamTumbukPakJun.

Lokasi : Ayam Tumbuk Pak Jun
Alamat : Jl. Garuda No 266 Tanjung Aman (dekat jalan masuk SMK)
Wifi : Tidak tersedia


Read On

Logo House Fashion Food & Bar Palembang

0 komentar Monday, September 18, 2017



Awal Agustus lalu saya pulang ke Palembang untuk acara ngunduh mantu adik saya. Saat melewati arah Kambang Iwak saya melihat sebuah cafe di sebelah jalan masuk asrama zidam. Seingat saya dulu tempat factory outlet, entah kapan udah ganti jadi cafe.

Bersama teman-teman Kompakers Palembang kami janjian berkumpul di sini. Dilihat dari tempatnya yang cozy dan lumayan luas, Logo House enak dijadikan tempat nongkrong dan ngumpul rame-rame.



TIdak lupa juga spot spot cantik yang so instagramable !


Nggak lupa foto bareng adek baby X))


 tukang fotonya keliatan sedikit >,<




Cafe ini terdiri dari 2 lantai, tapi saya tidak sempat mengabadikan suasana di lantai atas (kabarnya di atas juga ada seat di balkon).
Selain indoor Logo House juga menyediakan beberapa meja outdoor yang tidak kalah keren, lokasinya sebelum pintu masuk.



Bertemakan "Urban" Logo House mengusung konsep dimana kita bisa nongkrong sekaligus shopping. Saat weekend juga sering diadakan event seru. Misalnya awal September kemarin Logo House mengundang Cinta Laura untuk acara meet and greet. Hari ini malah bakal ada Kunto Aji di sana dalam acara JFAST2017.

Tepat di depan Drink Bar (foto pertama di atas) adalah pintu masuk ke fashion store, bisa juga langsung masuk dari pintu depan.





Udah cukup liat indoor dan outdoor? Yuk kita cek makanannya.


French Fries Butter Chicken 25K (kentang goreng dengan ayam creamy..cocolannya Honey sauce apa gitu saya lupa namanya, tapi enak)


Chicken Snitzel Barbeque 38K (porsi gede, bikin kenyang)


House Made Fried Rice 27K + Sausage Topping 5K (ini porsinya gede)


Ice Tea 20K 


Iced Thai Tea 


Green Tea / Matcha Frappucino 27K



Itu yang nyempil.. Iced Chocolate Milk 25K



Food Bar, tersedia berbagai macam kentang goreng, pasta dan sausnya.


Baru tau kalau kentang goreng pun bentuk dan namanya bermacam-macam 









Menu shabu bar, sayangnya tidak sempat cicip...keburu kekenyangan :D

Overall, suka dengan makanannya. Dengan harga yang standar cafe porsinya banyak dan ngenyangin. Oh iya, mau lebih hemat lagi untuk makan rame-rame? bisa pesan porsi super pan dan kamu boleh mix mau kentang goreng atau pasta! Asyik kan!

Saya juga suka sekali dengan dekorasinya yang full kayu furnished dengan lantai ubin dan keramik (lihat di depan food bar dan drink bar, keramiknya minta diculik >,< ) Suasananya santai, antara meja yang satu dan yang lain juga cukup luas..jadi tidak terasa sesak.

Well, nice to chit chat here. 


Lokasi :  Logo House Fashion Food & Bar Palembang
Alamat : Jl. Indra No 10. Talang Semut, Bukit Kecil (Daerah Kambang Iwak)
Wifi : Available


Read On

Donat Hujan Gula

1 komentar Saturday, September 2, 2017


Biasanya kalau membicarakan tentang motion photography atau fotografi benda bergerak seringkali dikaitkan dengan street photography. Padahal memotret makanan juga bisa menggunakan teknik capture motion.

Motion capturemotion tracking, atau mocap adalah terminologi yang digunakan untuk mendeskripsikan proses dari perekaman gerakan dan pengartian gerakan tersebut menjadi model digital. Ini digunakan di militer, hiburan, olahraga, aplikasi medis, dan untuk calidasi cisi computer dan robot. Atau secara fotografi dapat disebut proses merekam gerakan suatu objek. (Sumber : Wikipedia)

Awalnya saya melihat salah satu foto Nick Sharma di pinterest dimana beliau menggunakan teknik ini saat memasak donat polenta. Lain waktu, saya melihat blog Raquel Carmona dan terkagum kagum melihat butiran gula halus yang ditaburkan di atas wafer adas manis. Jatuh berbutir butir layaknya salju yang sering saya lihat di dalam drama Korea.

Atas dasar kekaguman saya pada dua orang tersebut, maka saya mencoba untuk melakukan hal yang sama. Meskipun di sini saya tidak membuat donat sendiri karena keterbatasan waktu dan anak bayi yang sedang aktif tidak bisa ditinggal sama sekali, jadi saya membeli beberapa buah donat. Awalnya saya ingin memberikan matcha dan taro glaze pada donat sebelum ditaburi. Saya memasukkan setengah sendok bubuk matcha ke dalam susu cair,,kemudian memasukkan gula halus dengan harapan cairan tersebut bisa mengeras (at least, mengental) tapi setelah mencoba 2x ternyata gagal akhirnya saya menyerah dan beralih pada gula donat.

Sebelum memotret, saya membaca sedikit tips dari blog edibleperspective bahwa untuk membekukan taburan donat perlu mengatur setting kamera dengan shutter speed tinggi, cahaya yang banyak / iso tinggi, pengaturan deep of field (sesuai selera), dan background berwarna gelap (agar butiran gula putih terlihat). Ok, let's set up and see what's happen.







Data exif : ISO 3200, f/4,5, SS 1/500

Semua foto di atas diambil dengan iso, shutter speed, aperture yang sama. Sedikit editan sharpen dan highlight tapi semuanya tidak memuaskan (hahahaha). Padahal yang saya baca di blog edibleperspective, mbak Ashley menggunakan ISO 1000-2000 dan SS 1/1250 untuk mendapatkan butiran halus yang jatuh. Masalahnya, menggunakan iso dan ss segitu fotonya malah jadi gelap gulita :D, harus putar otak dan mencoba lagi supaya hasilnya (minimal) mendekati fotonya mbak Ashley.

Sebagai bonus saya nyempatin memotret behind the scene :


Siapa tau ada yang mau mencoba motret movement. Eh tapi jangan tiru settingan kamera saya ya,,lah wong saya juga masih gagal motretnya :D


Sekian dulu cerita tentang donat dan taburan gula yang jatuhnya malah seperti air hujan, doakan saya bisa belajar terus sampai sukses!

Read On

Belajar Food Photography

10 komentar Thursday, March 24, 2016


Meski belum bisa dibilang sempurna, tapi setidaknya ada kemajuan :)

Awal mula saya belajar memotret makanan adalah September 2014. Saat itu saya masih menggunakan hp Lenovo. Asal jepret kalo boleh saya bilang. Itupun cuma beberapa buah cookies yang saya tata di piring lalu diletakkan di atas nampan. Tidak ada styling, apalagi konsep. Hasilnya? ya gitu deh..biasa. Beberapa bulan mencoba lagi juga merasa tidak pernah puas. Pasti ada aja yang terasa kurang pas, hingga akhirnya saya mencoba memotret dengan menggunakan DSLR.

Kamera yang saya gunakan adalah Canon EOS 50D milik suami tapi saya sendiri nggak belajar memotret dengan dia. Kenapa? karena dijelasin berkali-kali tetap aja nggak ngerti. hahahaha. Jadi proses belajar saya adalah trial and error (dan kebanyakan error nya) secara teori, saya banyak belajar dari ebook fotografi, salah satunya adalah dari majalah online Rasa Indonesia.

Dulu, setiap habis motret yang paling lama adalah proses editingnya (gaya deh, padahal ngedit terlalu banyak karena fotonya nggak beres). Tapi seiring berjalannya waktu dan sedikit sentilan dari pak suami yang katanya "kalo mau beneran jago harus jago motret, bukan jago ngedit foto", jadilah proses edit foto itu hal yang paling saya minimalisir.

Dari beberapa buku yang saya baca, saya mau berbagi sedikit tips simpel tapi penting seputar memotret makanan. Cekidot!

Jadi yang paling pertama saya pelajari adalah : Matikan flash!
Flash kamera ataupun handphone hanya membuat warna makanan menjadi tidak natural.

Kedua, Tentukan konsep.
Seperti contoh foto donat di atas, konsepnya adalah sarapan pagi. Jadi dengan menentukan konsep, kita bisa mengatur properti apa yang layak dan cocok digunakan untuk mendukung konsep yang kita buat. (misal, sarapan pagi adalah donat, piring kecil, segelas susu, sedikit gula taburan donal dll)

Ketiga, Cari cahaya natural.
Yang paling mudah adalah cahaya matahari. Untuk cahaya yang lembut bisa pada jam 8-10 pagi atau jam 3-5 sore. Hindari jam 12 siang (karena panas terik bo!) karena cahaya pada jam tersebut terlalu keras.

Keempat, Atur white balance.
Menurut wikipedia, white balance adalah istilah fotografi untuk kalibrasi titik berwarna putih. Terjemahan sederhana versi saya, keseimbangan warna putih. Maksudnya putih yang benar-benar putih. bukan agak kekuningan, atau agak kebiruan. Biasanya di setiap kamera ada setting di mana kita bisa mengatur WB (misal, untuk siang hari bisa gunakan WB daylight, atau cloudy pada saat cuaca agak mendung)

Kelima, Temukan komposisi dan angle yang pas!
Untuk makanan tertentu, terlihat lebih cantik bila difoto dari atas (Bird Eye) sedangkan untuk cake yang berlayer lebih cocok difoto dengan sudut sejajar (Eye Level / Eye View). Selain itu, penerapan komposisi (atau dalam fotografi disebut dengan Rule of third) yaitu teknik menempatkan objek utama foto diposisikan pada 1/3 bagian dalam foto.
Sebagai contoh foto di atas :


Di sini kita bisa menentukan objek utama apakah letaknya di tengah, samping atau atas. Untuk foto ini saya menggunakan angle eye level (contoh angle bird eye dll bisa googling ya).

Keenam, Diedit sedikit nggak dosa kok!
Dengan catatan diedit untuk menutupi kekurangan yaa, bukan supaya jadi keren. Misal kalo fotonya miring, bisa di-adjust atau crop bagian-bagian yang nggak sengaja ikutan masuk ke dalam foto (dalam contoh foto di atas, saya ngecrop cangkir susu supaya sendoknya nggak keliatan) atau menambah saturasi warna supaya makanan nggak terlihat pucat. Editnya pake apa? bisa pakai Photoshop, Adobe Lightroom atau yang paling gampang ya pake aplikasi Photoscape atau edit langsung di instagram

Dan terakhir, Practice..practice..practice!!
Pepatah bilang "alah bisa kareana biasa" semakin sering kamu latihan, semakin banyak yang kamu pelajari dan tidak menutup kemungkinan bakal tambah jago! Selamat mencoba :)

sedikit ekstra dari saya, behind the scene motret si donat ala sarapan pagi. Cahaya dari arah jam 8, reflektor dari styrofoam di sebelah kanan. Pukul 9 pagi, Data exif : 1/50s f 3.5 ISO 200.

Read On